Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘memberi’

Suatu ketika, hiduplah seorang petani bersama keluarganya. Mereka menetap di sebuah kerajaan yang besar, dengan raja yang adil dan bijaksana. Beruntunglah siapa saja yang tinggal disana. Tanahnya subur, keadaannya pun aman dan sentosa. Semuanya hidup berdampingan, tanpa pernah mengenal perang ataupun bencana.

Setiap pagi, sang petani selalu pergi ke sawah. Tak lupa ia membawa bajak dan kerbau peliharaannya. Walaupun sudah tua, namun bajak dan kerbau itu selalu setia menemaninya bekerja. Sisi-sisi kayu dan garu bajak itu tampak mengelupas, begitupun kerbau yang sering tampak letih jika bekerja terlalu lama. “Inilah hartaku yang paling berharga”, demikian gumam petani itu dalam hati, sembari melayangkan pandangannya ke arah bajak dan kerbaunya.

Tak seperti biasa, tiba-tiba ada serombongan pasukan yang datang menghampiri petani itu. Tampak pemimpin pasukan yang maju, lalu berkata, “Berikan bajak dan kerbaumu kepada kami. “Ini perintah Raja!”. Suara itu terdengar begitu keras, mengagetkan petani itu yang tampak masih kebingungan. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Mungkin kita telah banyak mengetahui bahwa banyak orang memberi bantuan berupa materi dari segala kelebihannya. Diman mereka memberi kepada orang lain yang membutuhkan dari sebagian kecil dari yang dimilikinya. Kadang-kadang kita melihat dalam memberikannya pun mereka show of force biar dilihat oleh orang lain kalau ia bersedekah. Padahal memberi yang baik itu  kalau tangan kanan yang memberi jangan sampai tangan kiri mengetahuinya. Itulah prinsip memberi yang sebenarnya.

Disini kita akan belajar hidup dari seseorang yang memberi dari segala kekurangan dan keterbatasannya. Dimana hal itu dapat kita lihat dalam Tayangan Acara Televisi MINTA TOLONG yang disiarkan oleh RCTI sore hari ini. Dimana kita melihat dan belajar hidup dari seorang Bapak yang bernama Roni Ikwan, seorang penjual buku keliling di Semarang dengan kaki yang cacat, diamputasi akibat tertabrak kereta api sewaktu beliau masih kecil. Kita melihat dan belajar kerendahan hati, kearifan dan kesederhanaan seorang Bapak ini dalam menjalani hidup yang sebentar ini dalam falsafah Jawa Urip mung mampir ngombe. (lebih…)

Read Full Post »