Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘humanisme’

Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di sana beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan buruk yang dialaminya di apotek setempat. Ia meminta pada tetangganya agar mau menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu.

Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek itu. Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil mengatakan betapa senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang kembali ke apoteknya, dan berharap wanita dan suaminya menyukai kota mereka. Bukan hanya itu, pemilik apotek itu bahkan menawarkan diri membantu wanita dan suaminya menguruskan berbagai hal agar mereka bisa menetap di kota itu dengan nyaman. Lalu, ia pun mengirimkan apa yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Gus MusOleh: A. Mustofa Bisri

Kedatangannya hari itu ke rumah saya merupakan kejutan. Pada waktu berkenalan di Jakarta pertama kali beberapa tahun yang lalu, dia kelihatan seperti tidak begitu mengacuhkan saya, sampai saya merasa tidak enak sendiri. Mereka telah mengusiknya. Sekarang, tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba dia datang ke gubug saya. Saya gembira sekali.

Dia datang menjelang maghrib dan shalat bersama para santri di surau saya yang tidak ada mihrabnya. Waktu wiridan dia sempat saya perhatikan. Dia yang mengenakan celana jeans dan gundulan, keliatan begitu mencolok di tengah para santri yang bersarung dan berpeci. Tapi mencolok lagi kekhusyukan yang wajar. Dan entah mengapa tiba-tiba saya teringat hadist, “ Al-Muslimu miraatu-l-muslimin.” Orang Islam adalah cermin orang Islam yang lain. Dan saya ingin bercermin pada diri tamu saya yang khusus ini.

Dalam banyak hal dia keliatan sangat kontras dengan saya. Dia halus, bicaranya halus. Wajahnya sedap dipandang. Namanya Jawa dan sederhana, nama saya Arab dan banyak embel-embel. Dia dari pedalaman, saya dari pesisir. Mungkin dia dibesarkan dilingkungan priyayi, sedangkan saya sejak kecil hidup di kalangan santri. Dia berpendidikan umum dan menurutnya buta huruf Arab. Sementara saya selamanya dipesantren dan akrab dengan bahasa Al Qur’an. Kenalan dia bongso Goethe, Leonardo da Vince, Van Gough, Cezanne, Monet, Gauguin, Picasso, Kafka, Sartre, Camus, Chekov, Klee, Zola, Kandinsky, dan entah siapa lagi. Sedangkan kenalan saya bongso as-Syafi’y, ar-RAafi’y, an-Nawawy, Ibnu Hajar, Romly, Ibnu Malik, al-Khalil, Abu Nawas, Al-Bushiry, Al-Ghazaly, Juneid, Zakaria, al-Anshary…Dia dikenal sebagai seniman sementara orang-orang disekeliling saya menyebut saya kiai. (lebih…)

Read Full Post »

Terkadang dari orang-orang sederhana atau yang biasa disebut wong cilik kita bisa belajar mengenai nilai-nilai kehidupan. Seperti yang dulu saya dapatkan dari seorang bapak yang membuka angkringan dekat kontrakan saya .Angkringan itu sepintas tidak jauh beda dengan yang lainnya, baik dari ragam makan-minumannya yang disediakan, gerobak yang dipakai, warna terpal oranye yang menjadi ciri khas angkringan di kota Gudeg ini. Namun saya pribadi terkesan dengan kejujuran yang diperlihatkan oleh bapak ini. (lebih…)

Read Full Post »

Oleh A. Mustofa Bisri


Akhir-akhir ini sering kita mendengar dari kalangan kaum muslim, sementara orang yang mempersoalkan secara dikotomis tentang kesalehan. Seolah-olah dalam Islam memang ada dua macam kesalehan: “kesalehan ritual” dan “kesalehan sosial”.

Dengan “kesalehan ritual” mereka menunjuk perilaku kelompok orang yang hanya mementingkan ibadat mahdlah, ibadat yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan untuk kepentingan sendiri. Kelompok yang sangat tekun melakukan sholat, puasa, dan seterusnya; namun tidak perduli akan keadaan sekelilingnya. Dengan ungkapan lain, hanya mementingkan hablun minallah.

Sedangkan yang mereka maksud dengan “kesalehan sosial” adalah perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai Islami, yang bersifat sosial. Suka memikirkan dan santun kepada orang lain, suka menolong, dan seterusnya; meskipun orang-orang ini tidak setekun kelompok pertama dalam melakukan ibadat seperti sembayang dan sebagainya itu. Lebih mementingkan hablun minan naas.
(lebih…)

Read Full Post »

Opera Java digelar di Amsterdam awal September 2010 untuk memperingati 100 tahun Tropenmuseum. Maka penonton disuguhi pertunjukan teater Jawa yang terus memperbaharui diri dan tanpa segan-segan menampilkan hal-hal yang bisa dinilai saru.

Sepintas, terbesit kesan puritanisme telah kokoh mencokoli masyarakat kita. Tengok saja kecaman massal terhadap video pornonya artis terkenal atau berlakunya UU Pornografi. Belum lagi ormas-ormas yang giat menindak kalangan yang dinilai tidak mentaati tata susila. Kemudian masih ditambah pejabat yang tidak henti-hentinya berupaya memblokir situs internet porno. Melihat semua ini orang cenderung menahan napas: jangan-jangan puritanisme memang telah bersimaharaja lela.
(lebih…)

Read Full Post »

Oleh: A. Mustofa Bisri

Atas perkenan dan pertolongan Allah, kita, Alhamdulillah, telah berhasil menyelesaikan ujian Tuhan terhadap kita dengan merampungkan kewajiban berpuasa sebulan suntuk di bulan Ramadan. Marilah kita rayakan dengan penuh kesyukuran dan ketakwaan, seraya merenungi hikmahnya yang agung.

Tugas puasa yang telah kita selesaikan, sebenarnya merupakan gemblengan bagi mencapai kemerdekaan diri yang sesungguhnya. Merdeka dari penjajahan penjajah paling laknat yang sekaligus kekuasaannya paling membelenggu diri kita: nafsu dan syahwat yang mendapat dukungan setan.

Dengan dukungan setan, selama ini nafsu dan syahwat telah berhasil menguasai diri dan memperbudak banyak pribadi manusia. Sehingga acapkali bahkan berhasil membuat pribadi-pribadi itu lupa kemanusiaannya. Mereka menjadi kejam melebihi binatang buas, rakus melebihi hewan, memangsa siapa saja, melalap apa saja; tak terkecuali sesama mereka. Melebihi hewan dan binatang, karena memang mereka mempunyai kelebihan-kelebihan yang tak dimiliki hewan dan binatang.

Sebenarnya, oleh kasihsayang Allah, manusia telah dibekali hati nurani dan akal pikiran yang didukung oleh malaikat, bagi mendapatkan kesempuranaan hidayah. Hati nurani dan akal pikiran itulah yang merupakan sumber dari segala kelebihan manusia. Dengan nurani dan akal pikiran itu sebenaranya manusia, bisa mencapai ketinggian martabat paling tinggi di atas makhluk-makhluk Allah yang lain. Namun, seringkali nafsu dan syahwat dipesonakan setan kepada gemerlap dan kenikmatan kehidupan duniawi sesaat, sehingga mengaburkan mata hati manusia dan kemudian menjerumuskannya ke jurang kerendahan paling rendah. (lebih…)

Read Full Post »

Pesantren IstighfarGus Tanto melayani sedikitnya 250 preman yang ingin belajar agama

Sebuah pondok pesantren di Kota Semarang mencoba mengkhususkan diri memberi pencerahan kepada para preman atau berandal jalanan.

Dengan metode yang disebut tombo ati (obat hati), pengelola pondok pesantren ini berupaya mengajak para bandit jalanan agar sadar dan bekerja dengan cara yang benar, lapor Edhi Prayitno untuk BBC Indonesia.

Pesantren itu sendiri bernama Pesantren Istighfar, dimaksudkan agar tempat ini bisa menjadi tempat bertobat. Pengelola pesantren, Mohamad Kuswanto atau Gus Tanto setiap hari melayani sedikitnya 250 orang preman yang belajar ibadah.

Semuanya adalah santri kalong atau santri yang datang ke pesantren jika ada acara atau membutuhkan konsultasi.

Menurut Gus Tanto, pesantren itu didirikan secara fisik tahun 2005, meski aktivitasnya sudah ada sejak 20 tahun lalu.

Cap buruk

Dia yang lahir dan besar di kampung itu, mengaku tidak tahan melihat kekerasan di lingkungannya.

“Orang main ke Perbalan itu sudah berpikir seribu kali karena tidak aman apalagi nyaman. Brooklyn-nya Semarang itu Perbalan ini. Krisis moralitas. Dengan dihimpit lingkungan seperti itu, saya punya naluri bagaimana saya bisa menerapkan apa yang namanya kebenaran,” kata Gus Tanto. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »