Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘cinta’

” Pernah gak kamu merasa sendiri didunia ini, ditengah keramaian yang ada, tanpa teman, kasih dan cinta. Seolah semua mengacuhkan, mengucilkan dan menganggap kamu tiada “

– Kadang, bahkan ditengah hiruk pikuk dunia, ada rasa kosong seolah melebur dalam ketiadaan hingga lenyap…-
” Saat ini aku ingin pergi jauh, menjejakkan kaki-kaki ku. Meninggalkan semua yang ada padaku kini, di tempat yang asing, tidak kukenal dan tanpa ada yang mengenal aku tanpa mereka tahu bahasaku dan sebaliknya. Aku hanya ingin sebuah keberadaan dan keberartian”

– Kadang hal yang kita perlu hanyalah sebuah pengakuan-
” Hmm…Yah pengakuan mungkin satu kata yang tepat”

– Heii…whats wrong???? –
” Aku hanya ingin meringkuk di kolongku, memeluk lututku, mengayunkan tubuhku seiring debu membelai tubuhku

– Ayolah…berbagilah denganku, dari pada meluk lutut, sini peluk aku –
” Aku hanya perlu waktu, menangis, sendiri, merenung dan menginstropeksi diri”

– Perlu aku temeni? Jalan-jalan yuk? Biar kamu lebih segar…-
“…. doakan aku saja “

– ooohhh…Ok.Aku percaya padamu. Dan semua akan baik-baik saja besok. Ku harap –
” bukan karna kekuatan, namun ROHMU ya TUHAN, ketika kupercaya Mukjizat Itu Nyata ”

Percayalah bahwa mukjizat itu Nyata, sampai kapan saya harus menunggu ?? sampai Waktu Tuhan dinyatakan dalam hidup kita. AMIN.

Tuhan memberkati.

Komunitas Doa dan Inspirasi batin

Iklan

Read Full Post »

Hari ini (16/08) adalah hari ketujuh pada bulan ketujuh dalam kalender Imlek Tiongkok, juga adalah Hari Raya Qixi. Hari Raya Qixi yang romantis terkenal sebagai “Hari Kasih Sayang Tiongkok”, dan telah dicantumkan dalam daftar warisan budaya nasional non-fisik oleh Dewan Negara Tiongkok pada tahun 2006.

(lebih…)

Read Full Post »

Sekalipun sesama kita menolak kita, Sekalipun sesama kita tidak menghargai kita, Namun Bapa menerima dan menghargai kita dengan apa adanya kita…

Sekalipun sesama kita membenci kita, Sekalipun sesama kita tidak menyayangi kita, Namun Bapa sangat mencintai kita…

Sekalipun sesama kita merancangkan rencana jahat terhadap kita, Sekalipun sesama kita melakukan yang tidak baik terhadap kita, Namun Bapa merancangkan rencana yang baik dan indah bagi masa depan kita….

Sekalipun sesama kita tidak mau mendengarkan keluh kesah kita, Sekalipun sesama kita tidak mau menolong kita, Namun Bapa dengan sabar sentiasa mendengarkan keluh kesah dan menolong kita…

Kita harus ingat……
Kita sangatlah berharga di mata Bapa, Bahkan sebelum dunia dijadikan, Bapa telah memilih kita, Bahkan sebelum dalam kandungan, Bapa telah melukiskan kita di telapak tangan-Nya… (lebih…)

Read Full Post »

Begitulah kata terakhir yang dipesankah Sahabatku, Sang Benih, sebelum ia akhirnya meninggal dunia, “Jangan bicara lagi tentang cinta!” Aku mau minta penjelasannya lebih lanjut, tapi tak pernah kudapatkan penjelasan dari mulutnya sendiri, karena kini ia telah bersatu dengan tanah. Tanah yang kutanya pun hanya mengatakan, “Apakah engkau baru kali ini mendengarkan, Sang Benih itu mengatakan, “jangan bicara lagi tentang cinta?” Aku pun menyahut dengan lemah lunglai, “Benar Tanah, aku baru kali ini mendengarkan dia memberikan pesan yang sangat inspiratif tapi juga sangat sulit kumengerti! Kenapa dia bilang begitu? Apakah selama ini aku hanya bicara tentang cinta, tapi dia sebenarnya tidak pernah merasa kucintai?” Tanah itu pun lalu mencoba menjawab, “Sahabatku, aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu, ataukah juga menjadi wakil Sang Benih! Tapi bagiku pesan Sang Benih itu, sebenarnya masih bisa berlanjut, “Janganlah bicara lagi tentang cinta, tapi jadikanlah cinta itu menjadi hidupmu, bukan lagi cinta itu terbungkus kata kata manismu!” (lebih…)

Read Full Post »

Para sejarawan tidak pernah melakukan penelitian tentang ini. Itulah ucapan pembawa acara dokumenter tentang anak-anak tentara Belanda yang ditugaskan di Indonesia dulu atau Hindia Belanda. Mereka disebut anak hasil cinta di zaman perang apa yang disebut dalam bahasa Belanda oorlogliefdeskind.

Dokumenter yang berjudul Tuan Papa itu ditayangkan oleh organisasi penyiaran VPRO. Dokumenter televisi selama hampir satu jam itu menampilkan kisah para tentara Belanda, perempuan Indonesia yang menjadi kekasih mereka dan anak-anak mereka.

Jumlah tentara Belanda yang ditugaskan ke Indonesia antara tahun 1946 sampai 1949 itu sekitar 130000 orang. Jan van den Brom, salah seorang tentara Belanda yang dikirim ke Indonesia, mengatakan sebenarnya banyak sekali teman-temannya yang “berpacaran” sama perempuan Indonesia.

Elsje Kauw, salah seorang perempuan Indonesia yang bersuami tentara Belanda, dengan tenang menjelaskan kisah cintanya. “Kami dikaruniahi anak perempuan: Marianne, ” katanya.

Tidak diakui
Di antara anak hasil cinta di zaman perang itu adalah Jan Denni. Ia menceritakan status dirinya dan kedudukan orang Indo yakni warga yang berdarah campur Indonesia Belanda/Eropa.   “Pertama, saya tidak diakui oleh bapak saya.  Kedua, tidak ada negara yang mengakui kami, ” tandasnya.  Kami ini sebenarnya anak yang tidak disengaja. Per ongeluk, dalam bahasa Belandanya.

Banyak di antara tentara Belanda itu yang baru tahu bahwa mereka punya anak di Indonesia bertahun-tahun setelah mereka pulang ke Belanda. Tapi banyak pula yang sempat menggendong anaknya ketika masih bayi. Tapi kebanyakan terpaksa meninggalkan anak mereka ketika harus pulang ke Belanda dan kebanyakan menikah dengan perempuan Belanda.

Anak musuh
Baik si anak maupun sang ibu yang ditinggalkan di Indonesia nasib mereka terkatung-katung setelah tentara Belanda pulang ke Belanda. Mereka bukan hanya susah dari segi materiil tapi juga secara mental. Posisi mereka sulit di Indonesia. Bagi orang Indonesia mereka adalah “anak Belanda”, yang dianggap musuh.

Kehidupan mereka murat-marit. Sampai-sampai makan pun susah. Luwi Velleman, putera tentara Belanda yang bernama Velleman yang sudah pindah ke Australia, mengaku ia sempat menjadi pencuri untuk mencari makan. “Perut lapar. Susah” katanya hampir menangis. (lebih…)

Read Full Post »

DUNIA BAPAKU YANG BAHAGIA

Nyanyian gunung-gunung menjauh dan mendekat,

Paduan suara pohon-pohon willow,

Paduan suara pohon-pohon pinus,

Bisiskan dan senyum pohon forysthia, maple, dan cemara jarum

Ketika mereka melambaikan tangan mengucap selamat jalan

Memenuhi hati Pangeran Surgawi yang sedang dalam perjalanan dengan kebahagiaan tiada akhir.

Melihat perawan willow yang berambut panjang malu-malu

Menundukkan kepala mereka dn melambaklan tangan mereka;

Pohon-pohon pinus yang memiliki keinginan kuat dan tidak terpatahkan;

Sepanjang empat musim melambaikan tangan mereka;

Forsthia dan gadis-gidis muda rumpun cengkeh melambaikan tangan mereka:

Pohon-pohon poplar dan oak raksasa yang beremigrasi dari Italia

Melambaikan sapu tangan mereka

Dan pohon-pohon sycamore melambaikan tangan mereka yang besar-besar

Memenuhi hati Pangeran Surgawi dengan kebahagiaan tiada akhir.

Mereka sungguh

Teman abadiku tanpa kepura-puraan atau kebohogan.

Daya tarik dan keindahan bulan menarik perhatianku pada malam hari,

Dan aku sangat menikmati paduan suara bayi-bayi bintang.

Hatiku terbang ke segala arah

Melintasi kedamaian  Bima Sakti yangluas.

Ketika pandanganku terpaku pada

Matahari yang kuat dan luarbiasa,

Yang selalu tersemnyum sepanjang siang,

Dan para pelukis awan yang lewat

Menggambar dengan bebas berbagai macam lukisan yang indah

Di atas kanvas angkasa yang putih dan biru,

Angin sejuk temanku,

Yang selalu baik hati dan gembira,

Dengan lembut mendekat dan dengan gembira menaruh tangannya ke atas bahuku.

Ketika berjalan di sepanjang jalan setapak yang sempit di gunung,

Semua tanaman rambat yang masih muda menjulurkan tangan-tangan mereka yang cantik ke arahku,

Dengan manis memintaku untuk mengandeng tangan mereka.

Oh, dunia Bapaku yang bahagia

Dan semua teman-teman yang cantik yang ada di dalam sana!

Mereka hidup beribu-ribu tahun

Tanpa pernah mengeluh, tanpa pernah bertengkar,

Dan tanpa merasa cemburu atau tamak,

Teman-temanku hanya hidup

Dan mencintai kebahagiaan lainnya!

Semoga aku tetap dapat berteman dengan kalian dan tinggal bersama kalian selama-lamanya.

By Guru Suk Sun

Read Full Post »

BUDDHA YANG MENGGUNAKAN SEPATU TERBALIK

Diceritakan tentang seorang anak yang tidak berbakti. Di sebuah negara kecil di dekat sini, seorang janda yang ditinggal mati terlebih dahulu oleh suaminya, hidup berdua saja dengan anak laki-lakinya. Baginya, anak laki-laki itu adalah hidupnya sekaligus anak dan suami baginya, satu-satunya tempatnya bergantung. Oleh karena itu setiap kali ada sesuatu yang enak, ia akan memberikannya kepada anaknya, sementara ia makan makanan yang tidak enak. Ia memberikan pakaian yang bagus-bagus kepada anakya serta membelikan sepatu yang bagus. Segala sesuatu yang bagus adalah milik anaknya, sementara miliknya sendiri adalah yang jelek atau tidak berguna. Karena anak tersebut dibesarkan dengan cara demikian sejak kecil, sudah menjadi kebiasaan baginya untuk makan, berpakaian dan memakai segala sesuatu yang bagus, bahkan setelah dewasa sekali pun. Ia memberikan segala sesuatu yang tidak berguna kepada ibunya, memperlakukannya dengan kejam dan menyia-nyiakan. Setiap kali ibunya melihat anaknya yang sudah dewasa memperlakukannya dengan kejam , ia hanya menahan dari dan menangis sepanjang hari dengan penug kepedihan. Namun, ia sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa, karena ia sudah mengajarkan hal seperti itu kepada anaknya sejak masih kecil; ia menuai hasil perbuatannya sendiri. Oleh karena itu, ketika mendidik anak Anda ajarkan kepada mereka untuk memberikan apa saja yang baik buah-buahan dan makanan lain kepada orang tua mereka, lalu makan dan minum yang kualitasnya lebih rendah.

Suatu hari, nak yang tidak berbakti ini menjual seluruh padi mereka yang ada gi gunung serta ladang mereka tanpa membicarakannya terlebih dahulu den gan ibunya, lalu mengumumkan bahwa ia akan pergi ke Han Yang untuk mencari uang. Ia sama sekali tidak peduli jika ibunya kelaparan atau meninggal, dan pergi meninggalkan rumah tanpa menoleh lagi. Ibunya sama sekali tidak dapat mencegah keprgian anaknya yang tidak berbakti itu. Air matanya tumpah tiada henti menyaksikan anaknya yang tidak berperasaan menghilang di balik bukit, lalu ia kembali ke rumahnya yang dingin dan kosong.

Di Han Yang, anak yang tidak berbakti itu menjalankan berbagai macam bisnis yang berbeda untuk mendapatkan uang. Tapi, karena satu dan lain hal, ia selalu rugi dan tidak berhasil menjalankan bisnisnya. Ia membuang percuma semua harta milik ibunya yang diperoleh dengan susah payah dan nasibnya menjadi mengenaskan. Karena ingin mengetahui mengapa ia begitu sial, anak tersebut memutuskan untuk meramal nasib. Sebagai pilihan terakhir, ia menemui tukang ramal yang siap tahu dapat mengembalikan nasib baiknya. Begitu ia menaruh uangnya di hadapan tukang ramal itu, hal pertama yang diucapkan tukang ramal tersebut adalah, ” Oh, aku melihat kau selalu gagal dalam melakukan  apa pun. Nasib baik hanya akan kembali jika kau kembali dan merawat Buddha yang menggunakan sepatu terbalik, dengtan baik.Dengan penuh harapan, anak itu pergi dengan gembira sambil berkata, ” Itu dia. Sekarang nasibku akan menjadi lebih baik.” Ia pergi di pelosok-pelosok gunung, dan menanyakan kepada pendeta yang ada apakah ada Buddha yang mengenakan sepatu terbalik di kuil mereka. Namun kemana pun  pergi, ia selalu saja dikatakan bahwa Buddha seperti yang ia cari tidak ada. Bahkan mereka selalu memandanginya  dengan tatapan aneh, lalu berbisik-bisik, serta mengejeknya, ” Mana ada Buddha dengan sepatu terbalik di dunia ini?’

Anak yang tidak berbakti itu mengeluh, ” Mengapa aku begini sial? Sekarang, aku tidak dapat menemukan Buddha yang memakai sepatu terbalik.” Dengan segera uangnya habis, dan sepatunya rusak parah hingga ia tidak dapat melanjutkan perjalanannya. karena merasa sangat kelaparan, tidak ada pilihan lain baginya keculai mkembali ke rumah mungil di desa, tempat ibunya yang telah ia sia-siakan itu tinggal. Di sepanjang perjlanan, ia mengemis makanan bahkan harus menahan lapar selama berhari-hari. Akhirnya, pada suatu malm, ia tiba di rumahnya.

Anak yang tidak berbakti ini mengetuk pintu dan memanggil ibunya. Ketika ia pergi dulu, ia sama sekali tidak peduli apakah ibunya akan kelaparan atau mati; ia menghianati ibunya dan pergi meninggalkan rumah tanpa berkata apa-apa. Sekarang, ketika anak durhaka tidak dapat pergi kemana-mana lagi aia pulang. Ketika ibunya mendengarnya mengetuk pintu danmemanggilnya, ia berteriak,: Oh, kau masih hidup dan kembali. kau pulang. ke aman saja kau ini?’ Ia bergegas keluar, membuka pintu dan berseru,” Oh, kau pasti menderita sekali! Kau pasti lapar! dan dengan cepat ia berbalik menuju dapur untuk menyiapkan meja makan untuk anaknya. Ketika anak tidak berbakti itu memandangi ibunya dari belakang, ia melihat ibunya mengenakan sepatu terbalik. Pada saat itu juga ia memperoleh pencerahan luar biasa: ” Oh, Buddha yang mengenakan sepatu terbalik sebenarnya adalah ibuku yang ada di rumah!’ Dengan berurai air mata ia mengakui segala kesalahannya dan karena sudah tidak berbakti kepada ibunya. Sejak hari itu, ia mulai melayani ibunya seolah ibunya adalh Buddha. Setiap kali mendapatkan sesuatu yang bagus, baik makanan, pakaian atau sepatu, ia selalu memanggil ibunya,”Ibu,Ibu,” lalu memberikannya kepada ibunya atau membiarkan ibunya mengenakannya terlebih dahulu. Ia menyayangi ibunya dengan sepenuh hati dan melayani selayaknya ia melayani Buddha. Sekarang ibunya bahagia, dan penuh suka cita, dan rumah mereka seperti surga.

Sejak saat itu, nasib baik berbalik memihak kepadanya. Segala sesuatu yang ia lakukan, segala bisnis yang ia jalankan, dan keterlibatannya dalam segala hal selalu berhasil dengan baik dan sukses. Dalam waktu singkat ia menjadi sangat kaya, menikah dan mempunyai banyak anak, dan hidup bersama ibu isteri dan anak-anaknya.

Pada suatu ketika, ada orang bijak yang berucap,” Jika seorang anak berbakti, maka kedua orang tuanya akan penuh suka cita, rumahnya akan penuh dengan kedamaian dan segalany berjalan dengan lancar.” Pernyataan itu sejalan dengan kebenaran yang tertulis dalam Alkitab,” Biarlah ayah dan ibumu bersuka cita, biarlah beria-ria dialah yang melahirkan engkau,” Supaya kamu berbahagia dan panjang umur di bumi.”

Jika kita juga ingin menerima berkat dan menjadi sukses, marilah kita melayani orang tua kita, Tuhan kita yang kasat mata, seolah mereka adalah Tuhan yang tidak terlihat, dengan setulus hati serta mengasihi mereka dengan sepenuh hati. Maka Tuhan akan melimpahkan berkatNya kepada kita, sama seperti yang selalu Ia lakukan kepada anak-anak yang berbakti sepanjang masa. Seperti yang dijanjikan dalam Alkitab. Ia juga akan menganugerahkan dunia baru kepada kita, tanah yang kekal, sebagai warisan kita.

By Guru Suk Sun

Read Full Post »

Older Posts »