Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus 18th, 2010

Mobil Delahaye Roadster ini dianggap mobil tercantik di dunia

Sebuah mobil antik yang pernah menjadi milik mendiang aktris Inggris Diana Dors laku terjual dengan harga US$ 3 juta atau sekitar Rp 27 miliar dalam sebuah lelang di California.

Mobil jenis Delahaye Roadster buatan tahun 1949 yang oleh sejumlah kalangan disebut sebagai mobil terindah di dunia, merupakan hadiah ulang tahun ke-17 Diana Dors.

Uniknya, saat Dors pertama kalil menerima mobil ini, dia bahkan belum memiliki surat ijin mengemudi.

Diana Dors, yang dalam dunia perfilman disebut-sebut sebagai Marylin Monroe dari Inggris itu meninggal dunia tahun 1984 dalam usia 52 tahun.

Terlahir dengan nama Diana Mary Fluck, dia mulai dikenal sekitar tahun 1950-an sebagai simbol seks berambut pirang. Namun, dia tak hanya dikenal dengan kemolekan tubuhnya. Dors juga banyak dipuji karena bakat aktingnya.

Dan, mobil miliknya ini juga dianggap secantik sang empunya. Balai lelang RM bahkan mengatakan mobil ini memiliki lekukan tubuh yang seksi dan flamboyan serupa dengan sang pemilik.

Sebelumnya, mobil ini diharapkan terjual dengan harga US$ 6 juta atau sekitar Rp 54 miliar, namun akhirnya dilepas separuh harga.

Mobil terindah

Iklan

Read Full Post »

(By Elma Vinsi)

Usia Indonesia sudah tidak muda lagi. Enam puluh lima tahun … Beda dengan manusia, yang bisa uzur termakan usia, semakin tua suatu negara justru seharusnya semakin maju dan matang. Tetapi apa yang terjadi dengan Indonesiaku… Indonesia kita??? Trenyuh saya melihatnya.. Bila penghapusan penataran P4 dianggap sebagai tuntutan kemajuan jaman, apakah semakin banyaknya siswa-siswi yang tak mampu menghapal Pancasila juga dianggap kemajuan?? Banyak selebriti lokal, yang meraup dan mengais rejeki dari bumi pertiwi, hanya bisa cengar-cengir saat diminta menyanyikan lagu Padamu Negeri. Memprihatinkan?? Belum seberapa. Peribahasa Bahasa Menunjukkan Bangsa, semakin menyoroti keterpurukan bangsa ini. Bayangkan, tidak sedikit buku paket sekolah (yang tentunya sudah melalui proses penyuntingan sebelum terbit) memuat kalimat-kalimat tidak baku dan ‘salah’.

Saya masih bisa mengingat dengan jelas betapa meriahnya menjelang Hari Kemerdekaan saat saya masih usia SD dulu. Ada lomba hias sepeda, ada lomba menyanyi lagu keroncong,lomba hias becak, lomba gerak jalan, drumband, dan banyak lagi. Sekarang HUT RI benar-benar sudah kehilangan pamornya. Biasa-biasa saja. Tidak terlalu istimewa. Kalah jauh dibandingkan Keong Racun. Paling-paling kantor pemerintahan atau instansi resmi masih merasa ‘sungkan’ bila tidak mendekor tampak luar gedungnya dengan hiasan merah putih. Yang paling memprihatinkan,saya bahkan beberapa tahun ini menjadi warga ‘minoritas’ yang mengibarkan Sang Merah Putih dalam pekan kemerdekaan. Di antara ratusan bahkan ribuan rumah mewah di kota saya (entah di kota-kota lain), Merah Putih semakin jarang terlihat kibarnya. Bahkan tidak sedikit rumah super mewah hanya menancapkan bambu ala kadarnya sebagai tiang bendera. Belum lagi dalam upacara bendera, lagu kebangsaan Indonesia Raya cukup diperdengarkan melalui kaset/ CD. Jangankan meminta seorang anak yang bersekolah di sekolah internasional atau nasional plus untuk menyanyikan lagu kebangsaan dengan lengkap, bahkan anak dari sekolah negeri pun sering ‘plegak-pleguk’ bila diminta menyanyikannya. Menyedihkan?? Masih belum seberapa juga.Sebenarnya berpakaian pun merupakan hak asasi individu. Namun saya sangat terusik bila melihat orangtua murid yang diundang menghadiri upacara bendera justru tidak mampu menempatkan hak asasinya dengan patut. Anda boleh saja berdalih hanya sebagai pendatang/ ekspatriat, tetapi apakah itu lantas membolehkan Anda bercelana pendek atau cukup berkaos oblong?! Atau Anda boleh berkelit hanya sebagai warga keturunan, tetapi apakah serta-merta mengijinkan Anda memakai kaos ketat tanpa lengan saat menghadiri upacara kemerdekaan?! (lebih…)

Read Full Post »