Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni 15th, 2010

Biasanya penjaga gawang berdiri di depan gawang untuk menjaga gawangnya agar tidak kebobolan. Tetapi saat ia maju ke depan untuk membantu penyerangan timnya, ia meninggalkan sarangnya dan ketika ia mencetak gol lewat sundulan atau tendangan maka ia akan berteriak jangan panggil aku penjaga gawang tetapi aku adalah pencetak gol. Ini dilakukan para penjaga gawang kelas dunia diantaranya Amelia, Jose Luis Chilavert dari Paraguay yang telah mencetak 62 gol lewat tendangan kakinya, juga ada Rogerio Ceni, Rampulla, Taibi serta Toldo.



Iklan

Read Full Post »

Menurut kepercayaan rakyat Batak, awalnya nenek moyang mereka, bernama Siraja Batak, mengukir aksara Batak untuk dapat menulis bahasa Batak. Siraja Batak ini tak tahu bahwa masih ada bahasa-bahasa yang lain selain bahasa ibunya. Barulah setelah rakyat Batak menyebar ke desa na uwalu, mereka tahu bahwa masih ada bahasa daerah selain bahasa Batak. Kenyataan ini mereka ketahui setelah datangnya sibontar mata (bangsa asing), kemudian disusul Perang Batak dan Perang Padri. Terbukalah mereka bahwa sebetulnya masih banyak bahasa yang mereka temui di luar Tano Batak.

Sistem tradisi penulisan didalam bahasa Batak Toba diduga telah ada sejak abad ke-13,dengan aksara yang mungkin berasal dari aksara Jawa Kuna, melalui aksara Sumatera Kuna. Aksara ini bersifat silabis artinya tanda untuk menggambarkan satu suku kata/silaba atau silabis. Jumlah lambang /tanda itu sebanyak 19 buah huruf yang disebut juga induk huruf dan ditambah 7 jenis anak huruf.

Aksara Batak terdiri dari beberapa macam yaitu Aksara Batak Pakpak, Aksara Batak Simalungun, Aksara Batak Karo, Aksara Batak Mandailing, dan Aksara Batak Toba.Variasi pertama aksara Batak adalah yang ditulis di berbagai naskah. Jika ditulis pada kulit kayu, dikenal sebagai pustaha (pustaka) atau laklak. Naskah lain ditulis di tulang, biasanya tulang kerbau dan bambu.Tak pernah ada yang tahu pasti kapan pertama kali naskah Batak ditulis. ”Sebagai gambaran, sejak tahun 1700-an, British Museum sudah memiliki koleksi naskah Batak.Masuknya misionaris, baik dari Jerman maupun Belanda, ke Tanah Batak pada pertengahan abad ke-18 membuat varian asli aksara Batak berubah. ”Misionaris kesulitan karena ada banyak versi aksara Batak, ada Mandailing, Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak. Untuk mempermudah pekerjaan, misionaris lalu membuat variasi sendiri yang berbeda dari aksara aslinya, seperti tertulis di naskah Batak. Paling tidak karena ada misionaris Jerman dan Belanda, berarti ada dua variasi baru yang beda dengan aslinya.Profesor Uli Kozok ahli linguistik asal Jerman adalah orang pertama di dunia yang membuat aksara Batak dan berbagai versinya (Toba, Mandailing, Karo, Pakpak, dan Simalungun) dalam perangkat lunak (software) komputer. Perangkat lunak ini mentransliterasi aksara Batak ke aksara Latin. Dengan program komputer itu, kita bisa mengetik aksara Batak di komputer yang menggunakan papan ketik beraksara Latin.

Aksara

Semua ina ni surat yang berupa konsonan berakhir dengan bunyi /a/ (bp bapa).

    Karo Pakpak Simalung. Toba Mandail.
    a a a a a a
    ha a a k h h
    ka k k k k k
    ba b b b b b
    pa p p p p p
    na n n n n n
    wa w w w w v w
    ga g g g g g
    ja j j j j j
    da d d d d d
    ra r r r r r
    ma m m m m m
    ta t t t f t t
    sa s s s s s
    ya y y y y y
    nga < < < < <
    la l l l l l
    nya [ [ [
    ca c C c c
    nda q
    mba B
    i I I I I I
    u U U U U U

(lebih…)

Read Full Post »