Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret 25th, 2010

TANAH BERPIKIRAN LUAS

Tanah memiliki pemikiran  yang luas dan tidak pernah mengutuk siapa pun, bahkan ia memaafkan semuanya. Ia memiliki kebesaran hati dan toleransi yang sangat tinggi, seperti Tuhan, dan tanah memaafkan, menutupi, memeluk dan memberi makan setiap pohon yang kejam, binatang atau manusia, bahkan para pencuri maupun pembunuh

Orang-orang yang berbuat jahat, diasingkan dari masyarakat kita. Binatang-binatang melarikan diri ketika diusir dari kerajaan binatang. Namun, belum pernah ada cerita tanah mengusir, mengasingkan atau membubuh sesuatu atau seseorang. Itu karena tanah memilki kebesaran hati dan hati penuh kasih yang tulus, seperti Tuhan.

By Guru Suk Sun

Iklan

Read Full Post »

RUMPUN BAMBU

Choko, anjingku, duduk dengan penuh perhatian. Telinganya tegak, ekornya mengibas tegang dan matanya memandang tajam ke atas pohon. Ia mengamati gerak-gerik seekor monyet. Hanya satu yang menguasai seleuruh kesadarannya: monyet. Dan karena ia tidak mempunyai akal budi, tidak ada pikiran apapun yang mengganggu pusat perhatiannya. Tidak ada pikiran tentang apa yang akan dimakannya nanti malam, adakah yang nanti dapat dimakannya atau di mana ia akan tidur. setahuku. Choko melakukan sesuatu yang paling dekat dengan kontemplasi.

Anda sendiri mungkin pernah mengalami hal seperti itu, misalnya ketika Anda memperhatikan seekor anak kucing bermain-main. Inilah rumusan kontemplasi yang sama baiknya dengan rumusan-rumusan lain yang kukenal: memberi perhatian penuh pada saat sekarang ini! (lebih…)

Read Full Post »

LONCENG-LONCENG KUIL

Sebuah kuil dibangun di sebuah pulau, tiga kolometer jauhnya dari pantai. Dalam kuil itu terdapat seribu lonceng. Lonceng-lonceng yang besar, lonceng-lonceng yang kecil, semuanya dibuat oleh pengrajin-pengrajin terbaik di dunia. Setiap kali angin bertiup atau taufan menderu, semua lonceng kuil itu serentak berbunyi dan secar terpadu membangun sebuah simponi. Hati setiap orang yang mendengarnya terpesona.

Tetapi selama berabad-abad pulau itu tenggelam di dalam laut; demikian juga kuil bersama dengan lonceng-loncengnya. Menurut cerita turnu-temurun lonceng-lonceng itu terus menerus berbunyi, tanpa henti, dan dapat di dengar setiap orang yang mendengarnya dengan penuh perhatian. Tergerak oleh cerita itu, seorang pemuda berjalan sejauh beribu-ribu kilometer. Tekadnya telah bulat untuk mendengar bunyi lonceng-lonceng itu. Berhari-hari ia duduk di tepi pantai, berhadapn dengan tempat di mana kuil itu pernah berdiri, dan mendengarkan; mendengarkan dengan penuh perhatian. tetapi yang  di dengarnya hanyalah suara gelombang laut yang memecah di tepi panatai. Ia berusaha mati-matian untuk menyisihkan suara gelombang itu supaya mendengar bunyi lonceng. Namun sia-sia. Suara laut rupanya memenuhi alam raya.

Ia bertahan sampai berminggu-minggu. Ketika semangatnya mengendor, ia mendengarkan orang tua-tua  di kampung. Dengan terharu mereka menceritakan kisah seribu lonceng dan kisah tentang mereka yang telah mendengarnya. Dengan demikian ia semakin yakin bahwa kisah itu memang benar. Dan semangatnya berkobar lagi, apabila mendengar kata-kata mereka… tetapi kemudian kecewa lagi, kalu usahanya selama berminggu-minggu ternyata tidak menghasilkan apa-apa .

Akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri usahanya. Barangkali ia tidak ditakdirkan menjadi salah seorang yang beruntung dapat mendengar bunyi lonceng-lonceng kuil itu. Mungkin juga legenda itu hanya omong kosong saja. Lebih baik ia pulang saja dan mengakui kegagalan, demikian pikirnya. Pada hari terakhir ia duduk di tepi pantai pada tempat yang disayanginya. Ia berpamitan pada laut, langit, angin serta pohon-pohon kelapa. Ia berbaring di atas pasir, memandang langit, mendengarkan suara laut. Pada hari itu juga ia tidak berusaha menutup telinganya terhadap suara laut, melainkan menyerahkan dirinya sendiri kepadanya. Dan ia menemukan suara lembut dan menyegarkan di dalam gelora gelombang laut. Segera ia begitu tenggelam dalam suara itu, sehingga ia hampir tidak menyadari dirinya lagi. Begitu dalam keheningan yang ditimbulkan suara gelombang  dalam hatinya. (lebih…)

Read Full Post »

UBAHLAH KITAB SUCI

Seseorang terpelajar menghadap Buddha dan berkata: “Hal-hal yang Tuan ajarkan tidak terdapat dalam Kitab Suci!”

“Kalau begitu, masukkanlah dalam Kitab Suci,” kata Buddha.

Orang itu malu sejenak, lalu berkata lagi; Bolehkah saya memberanikan diri mengemukakan, bahwa hal-hal yang Tuan ajarkan ada yang jelas-jelas bertentangan dengan Kitab Suci?”

“Kalau begitu, ubahlah Kitab Suci,” kata Buddha. (lebih…)

Read Full Post »

BIJI GANDUM DARI MAKAM RAJA MESIR

Segenggam biji gandum diketemukan dalam makam salah seorang raja Mesir kuno. Lima ribu tahun umurnya. Rupanya ada orang yang menanam gandum itu dan menyiraminya. Bayangkan, biji gandum itu dapat hidup dan tumbuh sesudah tersimpan selama lima ribu tahun!

Jika orang memperoleh penerangan budi, kata-katanya menjadi seperti benih, penuh daya kehidupan. Dan kata-katanya itu dapat tetap tinggal berupa benih selama berabad-abad, sampai ditaburkan dalam hati yang terbuka dan subur.

Dulu aku mengira, bahwa kata-kata Kitab Suci itu mati dan kering. Sekarang aku mengerti bahwa sesungguhnya kata-kata itu penuh  dengan daya kehidupan. Justru hatikulah  yang  membatu dan mati. Bagaimana mungkin sesuatu dapat tumbuh di dalamnya?

By A de Mello SJ

Read Full Post »