Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret 22nd, 2010

LAUT PUN TERSENYUM

Laut pun tersenyum

Ia tersenyum pada cuaca yang menyenangkan

Dan dalam cuaca buruk.

Ia tersenyum saat hujan,

Saat turun salju,

Bahkan saat cuaca berangin

Laut tersenyum saat orang-rang berkelahi,

Juga saat mereka menari.

Laut tersenyum saat bangsa-bangsa berperang

Juga saat mereka berdamai

Hati laut begitu luas

Hati laut begitu dalam

Itu sebabnya laut dapat mengampuni segalanya,

Mencintai segala hal, dan hanya tersenyum.

Semua keindahan persaudaraan di negeri kita, dunia baru,

Adalah keindahan air yang suci,

Warga yang memiliki hati seperti laut.

By Guru Suk Sun

Iklan

Read Full Post »

PENYANGKALAN DIRI YANG PENUH AIR MATA

Sebetulnya air berasal dari dataran tinggi dan gunung-gunung yang tinggi. Zaman dahulu, orang dewasa sering mengatakan,”Air jauh lebih tinggi dari pada gunung.” Dan itu benar.

Air dapat diketemukan di atas Gunung Baekdu, gunung tertinggi di Korea dan diatas gunung Tien Shen, gunung tertinggi di sebuah negara China. Hingga ia memandang rendah ciptaan yang lainnya, ia mengalir dengan sombong karena menurutnya dialah ciptaan yang tertinggi, dan tidak ada apapun yang menanding.

Lalu, Tuhan berkata kepada air.” Air turunlah dari tempatmu yang tinggi, lalu mengalir ke tempat yang lebih rendah” Karena kecewa mendengar perintah Tuhan, air berubah menjadi pucat karena terkejut dan kecewa. Ia lebih memilih mati dari pada harus turun dari tempatnya yang tinggi. Namun ia tidak memiliki pilahan lain kecuali melkukannnya, karena demikianlah perintah Tuhan. Ketika ia memaksa diri untuk turun, ia mengeluh dan mengomel di sepanjang jalan, bahkan sambil mencucurkan air mata penuh kesedihan. Ia teru saja menggerutu dan malas-malasan untuk turun ke bawah namun  akhirnya ia menerima nasibnya dengan patuh. beberapa diantaranya marah dan mengeluh perintah Tuhan. Kata mereka, “Aku tidak bisa turun ke bawah,” dan berkeras utnuk tetap berada di puncak gunung. Mereka tidak lain adalah air yang tidak mengalir yang menolak perintah turun . Karena tidak mematuhi perintah Allah, yang sebetulnya adalah hidup mereka, mereka mulai rusak. hingga kemudian, rusa maupun burung-burung tidak mau minum air “mati” itu, hingga mereka penuh serangga.

Sementara itu, air yang patuh dan memaksa dirinya meski dengan bercucuran air mata saat bergerak turun, tidak mati, ia mulai berpikir bahwa ia adalah satu-satunya yang menyangkal diri sendiri, meninggalkan tempatnya yang tinggi dan bergerak turun tabpa henti ke tempat yang lebih rendah. selama berhari-hari, ia terus saja mengalir ke bawah dengan bercucuran air mata. namun, yang membuatnya heran, semakin rendah ia mengalir, ia bertemu dengan semakin banyak air lain dan berteman dengan mereka yang juga meninggalkan posisi mereka yang tinggi, yang turun dari puncak-puncak yang lainnya. Merek gembira dapat saling bertemu dan mereka saling menghibur sambil bergandengan tangan dan saling menempatkan tangan di bahu masing-masing. Sekarang, mereka tidak lagi menggerutu, mereka bahkan menyanyikan lagu suka cita begitu kerasnya hingga kemudian mereka menggema di celah-celah gunung, smbil dengan penuh suka cita mereka mengalir ke bawah.

Semua air yang ada melanjutkan perjalanan dengan motto, “Hanya kerendahan hati! Hanya kesederhanaan! Sambil berjalan mereka saling menyapa. Mereka semua lahir dari berbagi tempat yang berbeda. Suatu hari, setelah berjalan selama beberapa hari lamanya, tiba-tiba mereka mendengar sorak sorai dan deburan air. Mereka menyadari bahwa telah sampai di lautan yang ada surga dan bumi baru yang selalu mereka impikan tanah air mereka.Dipenuhi kasih yang melimpah, saudara-saudar air yang ada di lautan surga dan bumi menyambut mereka, memeluk mereka dan mengucapkan selamat datang serta saling bergandengan tangan. Sampai saat ini, teman-teman dekat saling bertemu, lalu harus berpisah lagi. Di sini kalian akan hidup selamanya dengan sahabat-sahabat kalian, dan tidak akan pernah berpisah dengan mereka lagi. Mereka menikmati suka cita, kebebasan, kedamaian dan kebahagiaan abadi.

By Guru Suk Sun

Read Full Post »

Manusia pada jaman sekarang, secara perseorangan maupun secara kelompok, menginginkan berhubungan satu sama lain. Membina hubungan, mengadakan hubungan dengan si Amat, si Polan, dengan lingkunagn ini atau lingkungan itu, dengan suatu negara tertentu itulah keinginan manusia. Ada yang mengira, bahwa itu suatu tuntutan, ada lagi yangnegira,bahwa itu suatu kewajiban. Tuntutan karena manusia tidak dapat hidup menyendiri, katakan meskipun sudah agak menjemukan, bahwa dunia menjadi makin kecil dan kepentingan-kepentingan manusia amat berkaitan satu sama lain.

Kewajiban: karena manusia tidak dapat menyempurnakan diri sendiri, jika tidak bersatu dengan orang lain. Ya suatu keharusan, lebih -lebih karena manusia semuanya ditebus oleh Kristus. makin banyak alat-alat komunikasi, makin banyak pula kita memperluas dan memperkuat hubungan satu sama lain. Namun begitu masih dapat dipertanyakan; Apakah berhubungan denganorang laian itu begitu sederhana?

  • Kita sering bersalaman dengan banyak orang, menepuk-nepuk bahu mereka, kita bersama-sama minum kopi, rumah berdekatan,bercakap-cakap dan bertukar pikiran dengan mereka. maka kita mengira mempunyai banyak sekali hubungan,banyak sekali kenalan. Tetapi sebenarnya kita keliru belaka. Sebab mungkin sekali kita merasa kesepian, walaupun mempunyai sangat banyak hubungan, jika tidak membuka mata dan hati lebar-lebar dan dapat melihat sesama dan menerimanya. (lebih…)

Read Full Post »