Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret 10th, 2010

SAHABATKU

Malik bin Dinar, sangat marah karena seorang pemuda yang hidup di sebelah rumahnya bertindak kurang ajar. Lama ia tidak berbuat apa-apa. Ia berharap, orang lain akan turun tangan. Tetapi setelah perilaku pemuda itu sungguh keterlaluan, maka Malik menegurnya, agar ia mengubah kelakuannya.

Pemuda itu dengan tenang memberitahu Malik, bahwa ia dilindungi oleh sultan dan tidak seorang pun dapat menghalangi apapun yang dikehendakinya.

Malik berkata: “Aku sendiri akan mengadu kepada Sri Sultan”. Pemuda itu menanggapi: “Sama sekali tidak ada gunanya. Sebab Sri Sultan tidak berubah pandangan mengenai diriku.”

“Kalau begitu , engkau akan kulaporkan kepada Sang Pencipta di surga!” kata Malik.  “Pencipta di surga?” tukas pemuda itu. “Ia Maha rahim sehingga tidak akan mempersalahkan aku!”

Malik tidak dapat berbuat apa-apa. Maka ditinggalkannya pemuda itu. Tetapi beberapa waktu kemudian nama pemuda itu menjadi begitu jelek, hingga banyak orang pun menentangnya. Malik merasa wajib untuk mencoba memperingatkannya lagi. Ketika ia berjalan menuju rumah pemuda tersebut ia mendengar Suara dalam batinnya; “Awas! Jangan menyentuh sahabatku. Ia ada di bawah perlindunganKu.” Malik menjadi bingung. Waktu bertemu muka dengan pemuda itu, ia tidak tahu apa yang aharus dikatakannya.

Pemuda itu bertanya:” Mengapa engkau datang?” Jawab Malik:” Aku datang untuk menegurmu, tetapi di tengah jalan kudengar Suara yang melarangku untuk menyinggungmu, karena engkau berada di bawah perlindunganNya.”

Wajah pemuda bergajulan itu berubah:”Benarkah Ia menyebut aku sahabatNya?” tanyanya. Tetapi pada saat Malik sudah meninggalkan rumahnya. Bertahun-tahun kemudian Malik berjumpa dengannya di Mekah. Ia begitu tersentuh olah perkataan Suara itu, sehingga ia membagibagikan seluruh harta bendanya dan menjadi pengemis pengembara. “aku datang kemari untuk mencari Sahabatku,” katanya kepada Malik. Lalu ia meinggal.

Tuhan sahabat orang berdosa? Pernyataan ini amat berbahaya, tetapi sekaligus berkekuatan luar biasa. Aku pernah mencobanya pasa siriku sendiri, ketika aku berkata:”Tuhan Maha Rahim sehingga tidak mempersalahkan aku.” Dan tiba-tiba aku mendengar Kabar Gembira, pertama kali dalam hidupku.

By A de Mello SJ

Iklan

Read Full Post »

JESUS MENONTON SEPAK BOLA

Jesus Kristus berkata bahwa Ia belum pernah menyaksikan pertandingan sepak bola. Maka kami, aku dan teman-temanku, mengajakNya menonton. Sebuah pertandingan sengit berlangsung antara kesebelasan Protestan dan kesebelasan Katolik.

Kesebelasan Katolik memasukkan bola terlebih dahulu. Jesus bersorak gembira dan melemparkan topinya tinggi-tinggi. Lalu ganti kesebelasan Protestan yang mencetak gol. Dan Jesus bersorak gembira serta melemparkan topinya tinggi-tinggi lagi.

Hal ini membingungkan orang yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk pundak Jesus dan bertanya: “Saudara berteriak untuk pihak yang mana?”

“Saya?” jawab Jesus, yang rupanya saat itu sedang terpesona oleh permainan itu. “Oh, Saya tidak bersorak bagi salah satu pihak, Saya hanya senang menikmati permainan ini.”

Penanya berpaling kepada temannya dan mencemooh Jesus: “Atheis!”

Sewaktu pulang, Jesus kami beritahu tentang situasi agama dunia dewasa ini. “Orang-orang beragama itu aneh, Tuhan,” kata kami.”Mereka selalu mengira bahwa Allah ada di pihak mereka dan melawan orang-orang yang ada di pihak lain.

Jesus menganguk setuju.” Itulah sebabnya Aku tidak mendukung agama;Aku mendukung orang-orangnya,” kataNya. “Orang lebih penting dari pada agama. Manusia lebih penting dari pada hari Sabat.”

“Tuhan berhati-hatilah dengan kata-kataMu,” kata  salah seorang di antara kami dengan was-was.”Engkau pernah di salibkan karena mengucapkan kata-kata yang serupa itu.”

“Ya dan justru hal itu di lakukan oleh orang-0rang beragama,” kata Jesus sambil tersenyum kecewa.

By A de Mello SJ

Read Full Post »